Provinsi Sulawesi Barat
A.
Letak Geografis
Letak geografis Provinsi
Sulawesi Barat sangat Strategis karena berada pada sekitar garis khatulistiwa,
terletak antara 00°12' - 03°38' Lintang Selatan ; 118°43'15'' - 119°54'03''
Bujur Timur. Provinsi Sulawesi Barat memiliki laut sepanjang Selat Makassar
yang merupakan lintas pelayaran Internasional dan berada pada titk tengah dalam
hubungannya dengan Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Provinsi Kalimantan
Timur.
B.
Luas dan Batas Wilayah
Luas wilayah Provinsi Sulawesi Barat
adalah 16.937,18 Km2 yang terdiri dari 5 Kabupaten dan memasuki tahun 2013
telah terbentuk daerah baru hasil pemekaran wilayah dari Kabupaten Mamuju
bernama Kabupaten Mamuju Tengah. Batas wilayah Prov. Sulawesi Barat,
sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur
(Selat Makasar), sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Donggala Provinsi
Sulawesi Tengah, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pinrang Provinsi
Sulawesi Selatan, dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja dan
Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan.
C. Sejarah
Pra-Kemerdekaan
Pada masa penjajahan,
wilayah Celebes Bagian Barat adalah bagian dari 7 wilayah pemerintahan yang
dikenal dengan nama Afdeling Mandar yang meliputi empat onder
afdeling, yaitu:
1. Onder Afdeling Majene
beribu kota Majene;
2. Onder Afdeling Mamuju
beribu kota Mamuju;
3. Onder Afdeling Polewali
beribu kota Polewali;
4. Onder Afdeling Mamasa
beribu kota Mamasa.
Onder
Afdeling Majene, Mamuju dan Polewali yang terletak di sepanjang garis pantai
barat pulau Celebes mencakup 7 wilayah kerajaan (Kesatuan Hukum Adat) yang
dikenal dengan nama Pitu Ba'bana Binanga (Tujuh Kerajaan di
Muara Sungai) yang meliputi:
1. Balanipa di Onder Afdeling
Polewali (dipimpin oleh Ambo Caca Daeng Magasing);
2. Binuang di Onder Afdeling Polewali;
3. Sendana di Onder Afdeling
Majene;
4. Banggae/Majene di Onder
Afdeling Majene;
5. Pamboang di Onder Afdeling
Majene;
6. Mamuju di Onder Afdeling
Mamuju;
7. Tappalang di Onder Afdeling
Mamuju.
Pasca-Kemerdekaan
Pembentukan Provinsi
Sulawesi Barat telah diperjuangkan sejak tahun 1962. Pada masa itu di pulau
Sulawesi terdapat 3 Provinsi yakni Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi
Sulawesi Tengah, dan Provinsi Sulawesi Utara. Namun, pada tahun 1963 usulan
pembentukan Provinsi Sulawesi Barat tidak disetujui oleh pemerintah pusat
karena beberapa alasan. Sebagai gantinya, pemerintah memekarkan
Sulawesi bagian selatan menjadi Provinsi Sulawesi Selatan dan
Provinsi Sulawesi Tenggara.
Perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat kembali menemukan momentumnya
pada tahun 1999 pasca-reformasi.
Terbentuknya beberapa provinsi baru di Indonesia seperti Provinsi Banten,
Provinsi Bangka Belitung, dan Provinsi Gorontalo menjadi api penyulut
perjuangan semesta rakyat untuk membentuk provinsi Sulawesi Barat. Perjuangan
panjang pembentukan Provinsi Sulawesi Barat akhirnya terwujud melalui UU No. 26
Tahun 2004 tentang Undang-Undang Pembentukan Daerah Otonom Baru pada tanggal 22
september 2004.
D. Demografi
Pada tahun 2021, penduduk Sulawesi Barat
berjumlah 1.436.842 jiwa dengan kepadatan 85,59 jiwa/km.
Bahasa resmi instansi pemerintahan di
Sulawesi Barat adalah bahasa Indonesia. Hingga 2019, Badan Bahasa mencatat
ada 10 bahasa daerah di Sulawesi Barat. Kesepuluh bahasa tersebut
adalah: (1) Baras, (2) Benggaulu, (3) Budong-Budong, (4) Kone-Konee, (5)
Mamasa, (6) Mamuju, (7) Mandar, (8) Pannei, (9) Pattinjo, dan (10)
Kalumpang.
E. Agama dan Suku
Bangsa
Masyarakat Sulawesi Barat merupakan masyarakat
heterogen yang terdiri dari masyarakat asli Sulawesi Barat dan juga pendatang.
Penduduk asli provinsi Sulawesi Barat termasuk suku Mandar, Mamasa, Pattae dan
Kalumpang. Suku Mandar tersebar di semua wilayah kabupaten di
Sulawesi Barat, kemudian suku Toraja Mamasa kebanyakan berada di kabupaten
Mamasa. Sementara suku Makki berada di kecamatan Kalumpang dan Bonehau.
Suku Pattae berada di Kabupaten Polewali Mandar, dan suku lainnya,
tersebar di wilayah kabupaten, termasuk suku pendatang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dalam Sensus
penduduk Indonesia 2010 dengan jumlah penduduk 1.157.565 jiwa, penduduk
asli Sulawesi merupakan etnis terbanyak yakni sebanyak 896.597 jiwa (77,46%).
Adapun rincian yakni suku Mandar sebanyak 565.762 jiwa (45,42%), kemudian
Mamasa 126.299 jiwa (10,91%), Mamuju 93.958 jiwa (8,12%),
Pattae 30.260 jiwa (2,61%) dan Kalumpang 18.005 jiwa (1,56%), kelima
suku ini adalah asli Sulawesi Barat. Selebihnya adalah suku Kaili sebanyak
50.724 jiwa (4,38%), Toraja 22.728 jiwa (1,96%) dan suku lain Sulawesi
28.861 jiwa (2,49%).
Kemudian
etnis lainnya adalah Bugis sebanyak 144.544 jiwa (12,49%), kemudian
Jawa sebanyak 56.955 jiwa (4,92%). Selain itu ada juga suku Makassar
25.367 jiwa (2,19%), Bali 14.657 jiwa (1,27%), Sasak 6.111 jiwa (0,53%),
asal Nusa Tenggara Timur 5.106 jiwa (0,44%) dan suku lainnya 0,71%.
F.
Ekonomi
SDA
Sulawesi Barat memiliki kekayaan sumber
daya alam yang bervariasi mulai dari pertambangan emas, batubara dan minyak
bumi, hasil bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, perternakan serta hasil
perikanan dan kelautan.
Di sektor kehutanan sesuai data BPKH Makassar (2007) setelah pemekaran dari
Sulawesi Selatan, luas kawasan hutan di Sulawesi Barat adalah seluas 1.158.442
Ha yang diantaranya terdiri dari hutan produksi tetap (PH) 46.632 Ha, hutan
produksi terbatas (HPT) 374.257 Ha, hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK)
69.930 Ha, hutan lindung (HL) 666.419 Ha, dan kawasan cagar alam (CA) seluas
1.204 Ha. Hutan-hutan inilah yang menghasilkan 13.514 s/d 36.726 m3 kayu dan
2.917 ton rotan dan damar.
Mata
pencaharian
Selain bertani, penduduk Majene juga
bermatapencaharian sebagai peternak, pengembangan usaha beternak dialkaukan
dengan mendatangkan bibit unggul, melaksanakan inseminasi buatan, perbaikan
mutu pakan, serta pencegahan dan pemberantasan penyakit.
Industri
Sulawesi Barat merupakan provinsi baru
yang potensial baik dilihat dari ketersediaan SDA-nya, khususnya rotan dan
kakao maupun dari letak geografis yang strategis.Selain sebagai sumber bahan
baku industri pengolahan rotan dan industri pengolahan kakao, Sulawesi Barat
juga merupakan penghasil komoditi lain yang potensial yaitu nilam dan ubi kayu.
G. Pemerintahan
Berikut merupakan Daftar Gubernur Sulawesi Barat dari
masa ke masa semenjak tahun 2006.
Pengganti Gubernur Sementara
Dalam tumpuk pemerintahan, seorang kepala
daerah yang mengajukan diri untuk cuti atau berhenti sementara dari jabatannya
kepada pemerintah pusat, maka Menteri Dalam Negeri menyiapkan penggantinya
yang merupakan birokrat di pemerintah daerah atau bahkan wakil gubernur termasuk
ketika posisi gubernur berada dalam masa transisi. Berikut merupakan daftar
pengganti sementara untuk jabatan Gubernur Sulawesi Barat.
Dewan
Perwakilan
DPRD Sulawesi Barat
beranggotakan 45 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima
tahun sekali. Pimpinan DPRD Sulawesi Barat terdiri dari 1 Ketua dan 3 Wakil
Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara
terbanyak. Anggota DPRD Sulawesi Barat yang sedang menjabat saat ini adalah
hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 26 september 2019 oleh
Ketua Pengandilan Tinggi Makassar di Gedung DPRD Sulawesi
Barat. Komposisi anggota DPRD Sulawesi Barat periode 2019-2024 terdiri dari 10
partai politik dimana Partai Demokrat adalah partai
politik pemilik kursi terbanyak yaitu 9 kursi disusul oleh Partai
Golkar yang
meraih 8 kursi serta PDI Perjuangan dan Partai Nasdem yang masing-masing
meraih 6 kursi. Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Sulawesi Barat dalam
dua periode terakhir.
H. Pariwisata
Sulawesi Barat
memiliki panorama alam yang menarik sekaligus indah untuk dikunjungi. Mulai
dari wisata alam, pantai, budaya, hingga kuliner yang masing-masing memiliki
keunikan tersendiri. Berkunjung kesana tidak lengkap sebelum mengunjungi tempat
wisata di Sulawesi Barat yang menarik.
Bukan hanya
pegunungan, letaknya yang ada di pesisir juga membuat Sulawesi Barat kaya akan
wisata pantai. Ada banyak tempat wisata di Sulawesi Barat yang bisa kamu
kunjungi, mulai dari yang tersembunyi hingga yang sudah populer di kalangan
wisatawan. Diantaranya;
- Pantai Palipis di
Polewali Mandar
- Pantai Dato di
Majene
- Pantai Manakarra
di Mamuju
- Air Terjun Indo
Rannuang di Polewali Mandar
- Air Terjun Limbong
Kamandang di Polewali Mandar
- Bendungan
Sekka-Sekka di Polewali
- Air Terjun Sambabo
di Mamasa
- Pantai Mampie di
Polewali Mandar
- Pantai Bahari di
Polewali Mandar
I. Kebudayaan
Rumah Adat Boyang
Rumah Boyang merupakan rumah adat yang berasal dari Provinsi Sulawesi Barat. Rumah Boyang memiliki gaya
arsitektur yang unik, berbentuk rumah panggung yang tersusun dari material
kayu dan ditopang tiang-tiang penyangga. Rumah ini menjadi tempat tinggal Suku
Mandar yang merupakan suku asli dari Sulawesi Barat.
Rumah boyang terdiri dari dua jenis, yaitu "boyang
adaq" dan "boyang beasa". Boyang adaq merupakan
tempat tinggal bagi bangsawan, sedangkan boyang beasa merupakan
tempat tinggal rakyat biasa. Pada boyang adaq diberi ornamen yang melambangkan
identitas tertentu yang mendukung tingkat status sosial penghuninya. Di
antaranya memiliki tumbaq layar (penutup bubungan) yang
memiliki tiga sampai tujuh susun, semakin banyak susunannya semakin tinggi
derajat kebangsawanannya. Selain itu boyang adaq memiliki dua susun tangga,
susunan pertama terdiri atas tiga anak tangga, sedangkan susunan kedua terdiri
atas sembilan atau sebelas anak tangga. Kedua susunan tangga tersebut di
antarai oleh pararang. Ciri-ciri yang dimiliki boyang beasa tidak
semegah boyang adaq, karena hanya memiliki satu susun penutup bubungan dan satu
susun anak tangga.
Pakaian Adat
Pakaian adat Sulawesi Barat khususnya baju tradisional
masyarakat Suku Toraja bagi kaum perempuan dikenal dengan nama Pokko.
Pokko biasanya hadir dengan pilihan warna-warna yang cerah seperti merah,
kuning dan putih. Aksesori yang dipakai perempuan Suku Toraja terdiri atas
hiasan manik-manik yang sangat khas.
Tari Tradisional
Tari Sayo Sitendean merupakan tarian
tradisional yang berasal dari kalumpang Sulawesi Barat. Tarian ini ada sejak
zaman dahulu yang berasal dari nenek moyang. Sayo berasal dari bahasa
Kalumpang.
Alat Musik Tradisional
1. Calong
Calong merupakan alat musik pukul dan tergolong pada perkusi
yang dibuat dari bilah-bilah panjang bambu yang disusun di atas buah kelapa.
Bambu yang digunakan untuk membuat Calong harus dikeringkan selama kurang lebih
enam bulan dan buah kelapa yang digunakan juga umurnya harus pas dan juga harus
kering sempurna namun tidak keriput. Empat bilah bambu yang telah kering
kemudian disusun di atas buah kelapa dengan cara diikat oleh arraq-arraq
(pelepah pisang kering). Calong menghasilkan empat nada yang berbeda dengan
suara yang sangat nyaring, sehingga bisa terdengar hingga jauh bahkan hingga 5
km. Calong biasanya digunakan oleh anak-anak sebagai hiburan juga oleh para
petani Suku Mandar ketika menunggu hasil panen.
2. Kecapi Mandar
Kecapi Mandar atau kecaping tobaine adalah alat
musik petik khas Suku Mandar Sulawesi Barat. Kecapi Mandar memiliki bentuk
seperti kecapi pada umumnya, namun Kecapi Mandar yang dimainkan oleh perempuan
memiliki bentuk yang berbeda. Kecapi Mandar yang digunakan perempuan berbentuk
melengkung, sehingga pemainnya harus mengangkat kaki untuk mendekatan kecapi ke
badan.
Kecapi Mandar dahulu kala dimainkan sebagai
pelipur lara, biasany oleh wanita Suku Mandar saat berada sendirian di rumah.
Raodah dalam jurnal berjudul Eksistensi dan Dinamika Pertunjukkan Musik
Tradisional Mandar di Kabupaten Polman Sulawesi Barat (2019), menyebutkan bahwa
kecapi Mandar sangat sulit dijumpai dan kini hanya ada dua orang yang bisa
memainkannya yaitu Santuni dan kakak perempuannya Maryama yang sudah berusia 81
tahun.
3. Pakkeke
Pakkeke atau keke adalah alat musik tiup khas
Suku Mandar Sulawesi Barat. Pakkeke dibuat dari bambu yang kecil dengan
diameter sekitar 2 sentimeter. Ujung bambu tersebut kemudian dililit
berkali-kali oleh daun kelapa kering agar bisa menghasilkan bunyi yang unik.
Pakkeke menyerupai suling, lengkap dengan lubang di sepanjang batangnya. Saat
ditiup, pakkeke akan menghasilkan suara yang unik dan biasa dimainkan oleh para
petani Suku Mandar disela-sela kesibukan mereka dalam mengurus ladang.
4. Gongga Lima
Gongga lima adalah alat musik tradisional Suku Mandar
Sulawesi Barat yang terbuat dari bambu. Istilah gongga lima berasal dari bahasa
Mandar yaitu “gongga” yang berarti alat dan “lima” yang berarti tangan.
Sehingga gongga lima berarti alat musik serupa
tangan. Hal ini marujuk pada cara memainkan gongga lima, yaitu dipukul
menggunakan tangan. Gongga lima terbuat dari kayu yang diberi lubang-lubang
kecil dengan jarak setengah buku jari dan ujungnya diraut membentuk dua lidah
bambu yang pipih. Gongga lima biasanya dimainkan oleh para pemuda Suku Mandar sebagai
hiburan dan juga perlombaan.
Gongga lima terbuat dari kayu yang diberi
lubang-lubang kecil dengan jarak setengah buku jari dan ujungnya diraut
membentuk dua lidah bambu yang pipih. Gongga lima biasanya dimainkan oleh para
pemuda Suku Mandar sebagai hiburan dan juga perlombaan.
J. Tokoh Terkenal
Politikus, Negarawan, dan
lain sebagainya
- Achmad
Amins, Wali kota Samarinda.
- Anwar
Adnan Saleh, Gubernur Sulawesi Barat.
- Baharuddin
Lopa, Menteri Hukum dan HAM, Jaksa Agung.
- Basri
Hasanuddin, Men.Ko.
- Ikang
Fawzi, Musisi.
- Cici
Paramida, Penyanyi dangdut.
- Muhammad
Asri Anas, Anggota DPD RI.
K.
Perguruan Tinggi dan Pendidikan
Perguruan Tinggi
STKIP dan STIP Polmas (sekarang Unasman) yang
berdiri tahun 1975 merupakan cikal bakal berdirinya Universitas Al
Asyariah Mandar (UNASMAN) Tahun 2004, melalui SK Mendiknas
Nomor: 59/D/O/2004 tanggal 27 April 2004, STKIP dan STIP dimerger ke dalam satu
lembaga yakni Universitas Al Asyariah Mandar yang di prakarsai Oleh Alamarhum
Annangguru Prof.K.H.Sahabuddin. Peresmiannyapun dilakukan langsung oleh
Presiden Megawati pada tahun 2004, menyelenggarakan pendidikan tinggi pada
tingkat Universitas sehingga menjadi tempat para lulusan dari berbagai jenis
SLTA (SMA dan SMK) dan SMA berciri khas agama (Madrasah Aliyah Negeri dan
Swasta) untuk melanjutkan studinya guna mendalami dan menggali serta memperluas
ilmu pengetahuan pada umumnya dan Ilmu Pendidikan pada khususnya.
Pendidikan
Berdasarkan hasil SP2010, persentase penduduk 5
tahun yang berpendidikan minimal tamat SMP/Sederajat sebesar 29,83 persen, dan
AMH penduduk berusia 15 tahun ke atas sebesar 86,39 persen yang berarti dari
setiap 100 penduduk usia 15 tahun ke atas ada 86 orang yang melek huruf. Angka
Partisipasi Sekolah (APS) menunjukkan besaran penduduk usia sekolah yang sedang
bersekolah. APS merupakan ukuran daya serap, pemerataan dan akses terhadap
pendidikan khususnya penduduk usia sekolah. APS 13-15 tahun sebesar 80,11 persen.
Ini menunjukkan masih terdapat kelompok usia wajib belajar (13-15 tahun)
sebesar 19,89 persen yang tidak bersekolah. APS 16-18 tahun sebesar 53,11
persen dan APS 19-24 tahun sebesar 16,03 persen. Berdasarkan hasil SP2010,
penduduk Provinsi Sulawesi Barat usia 5 tahun ke atas yang tamat SM/sederajat
sebesar 12,24 persen, tamat DI/DII/DIII sebesar 1,57 persen, tamat DIV/S1
sebesar 2,58 persen dan tamat S2/S3 sebesar 0,16 persen.



.png)
.png)
.png)
.png)












.jpg)




.png)









